Header Ads

Tour Keluarga Ke Yogyakarta pakai Bus Pariwisata




Libur telah tiba, sudah saatnya untuk memanjakan urat-urat yang tegang untuk refreshing bersama keluarga. Kali ini, keluarga besar ngajak untuk jalan-jalan ke Yogyakarta. Mulai deh langsung browsing-browsing untuk menyusun itinerary yogyakarta yang sesuai untuk keluarga dengan orang tua dan anak-anak.

Opsi pertama adalah memilih transportasi ke Jogja. Pilihan pertama pakai pesawat, tetapi ternyata banyak yang kurang sreg, mulai dari masalah budget sampai dengan yang beralasan "kurang seru". Akhirnya dipilih untuk sewa bus pariwisata. Perhitungan sewa bus wisata sesuai dengan tanggal, bukan berdasarkan waktu. Jadi misalnya kalau kita sewa tanggal 1 jam 6 sore sd tanggal 2 jam 6 pagi, walaupun secara hitungan waktu hanya 12 jam, tetap dihitung 2 hari karena masuk ke tanggal yang berbeda.

Tarif sewa bus bervariasi tergantung dari ukuran dan fasilitas.

  • Medium Bus, kapasitas 28-30 penumpang, tarif luar kota 2,2 juta per hari
  • Big Bus, kapasitas 36-60 penumpang, tarif luar kota: 3,3 juta per hari.

Fasilitasnya: kursi reclining (jok bisa direbahkan), AC, Audio dan Karaoke.

Sempat tertarik menyewa bus luxury/mewah, dengan fasilitas jok kulit, tempat tidur!, lemari es, dll. Tapi harganya keterlaluan, rata-rata paling murah tarifnya 8 juta per hari. Kalau ke jogja yang 3 hari harus bayar 24 juta. Dengan kapasitas tempat duduk 12 kursi, atau rata-rata 2 juta per penumpang. Lebih mahal dibandingkan tiket pesawat PP Bandung-Jogja. Wah andai saja harganya sekitar 4 atau 5 jutaan boleh juga tuh.

walaupun cuman satu keluarga, bus medium langsung terasa penuh sesak
Setelah diputuskan menyewa Medium Bus, maka urusan selanjutnya adalah mencari hotel dan menyusun itinerary. Salah satu hambatan dalam traveling rombongan sendiri (tidak lewat travel) adalah sulitnya menentukan keputusan. Mulai dari memutuskan masalah itinerary sampai dengan hotel. Ujung-ujungnya hotel yang diperoleh tidak sesuai dengan yang diharapkan di awal (harapan saya terutama, hehe). Hasil diskusi alot plus pilihan yang makin sedikit, maka diputuskan hotel yang dipilih adalah Hotel Arjuna.


Perjalanan Panjang Bandung-Yogyakarta

Hari yang ditunggu pun tiba, seluruh keluarga sudah berkumpul untuk bersiap-siap berangkat menuju Yogyakarta. Jika berdasarkan jumlah penumpang kami yang hanya 24 orang, kursi di bus medium sudah mencukupi. Anak-anak sudah memilih posisi yang menurut mereka paling enak.

Perjalanan menuju Yogyakarta  dimulai melalui rute jalur selatan, yang ternyata memakan waktu yang cukup lama hingga 16 Jam!. Sempat berhenti di mesjid Rajapolah jam 5 hingga jam 6 pagi untuk sholat subuh dan sarapan alakadarnya. Setelah berangkat dari Bandung jam 12 malam, bus yang kami tumpangi tiba di hotel Arjuna, Yogyakarta jam 4 sore.

Sore itu, setelah cek in karena kelelahan, kami memilih untuk istirahat di Hotel dan menikmati fasilitas hotel yaitu berenang.

selfi depan hotel arjuna


Akses Bus yang terbatas

Acara jalan-jalan di Yogyakarta pun dimulai setelah sholat magrib. Rute pertama adalah jalan-jalan di Malioboro! sambil mencari makan malam. Hotel Arjuna ke Malioboro bisa ditempuh 10 menit dengan jalan kaki. Berhubung telah kelelahan di jalan (plus renang sore) akhirnya malam itu ditutup setelah makan malam di lesehan.

Menikmati kuliner angkringan sambil lesehan, khas kuliner Jogja
Keesokan paginya, terjadi dualisme, ada yang ingin makan sarapan pagi di Hotel saja, ada yang ingin sarapan makan gudeg mbak Jum. Akhirnya diputuskan bagi yang mau makan di Hotel, dipersilahkan untuk makan di hotel. Sayang juga jatah breakfast kalau tidak dimanfaatkan. Pilihan menu yang ditawarkan oleh Hotel Arjuna, cukup lumayan. Standar bintang tiga deh.

Jam 8 pagi kami berangkat menggunakan bus, dengan tujuan sarapan di gudeg mbak Jum. Tetapi sayang akses bus memang terbatas, tidak semua rute bisa ditempuh. Wajar saja, mengingat badan bus yang besar, sehingga sulit untuk masuk ke jalan-jalan kecil tanpa menimbulkan kemacetan. Tapi tenang saja, di Jogja sepertinya cukup banyak lokasi-lokasi parkir bus pariwisata.

Bagi yang berminat menuju keraton dan alun-alun, Bus bisa diparkirkan di seberang Taman Pintar Jogja. Dari sana kami menyewa Becak sekalian untuk muter-muter beli oleh-oleh bakpia patok, beli kaos, dan ujungnya ke keraton Jogja. Inilah kerennya kalau pake bus, bisa "kepaksa" naek becak khas Jogja, hehe. Kalau kita pake mobil pribadi mungkin ga kepikiran untuk naek becak, menikmati jalanan di Jogja.


Ditinggalkan Tukang Becak

Tarif naek becak biasanya per paket, yaitu dari tempat parkir ke keraton dan keliling-keliling dulu ke tempat oleh-oleh kena 40 ribu per becak. Hasil nawar itu juga, katanya memang harus getol menawar, kalo ga nawar kasihan tukang becaknya yang udah siap-siap ditawar harganya, hihi.

Satu lagi yang harus diingat baik-baik kalau naek becak di Jogja. Walaupun mereka bilang bahwa harga yang disepakati adalah harga muter-muter sampai mereka nganter balik lagi ke tempat kita naik. Dan, walaupun mereka setia menunggu kita milah-milah belanjaan di tempat oleh-oleh atau kaos dagadu Jogja. Ada satu hal pantangan para tukang becak disana, yaitu pantang nungguin orang yang jalan-jalan di keraton. Jadi jika tujuan kita pengen jalan-jalan di Keraton Jogja, kita harus ikhlaskan mas-mas tukang becak itu meninggalkan kita di Keraton. Sedih juga sih, mana belum sempet tukeran akun instagram lagih.



Di Keraton Jogja, saya request untuk ditemani oleh pemandu wisata supaya perjalanan kami di dalam keraton lebih terarah. Sekalian anak-anak bisa dapat penjelasan mengenai sejarah keraton Jogja. Lumayan biar mereka dapat pelajaran tentang silsilah keluarga raja keraton, sementara para ortunya sedang berusaha keras agar dapet pose selfi yang instagramable.

Gak kerasa hari sudah siang, kami pun bermaksud untuk balik lagi ke Taman Pintar. Perpisahan dengan tukang becak sebelumnya cukup membekas di hati, sehingga agak sulit untuk menerima kehadiran tukang becak lain untuk nganter balik ke tempat parkir, hihi.

Setelah ngintip di Google Map, yang menunjukan jarak dari keraton ke tempat parkir di depan taman pintar hanya 900 meter saja. Kami pun membulatkan tekad untuk Jalan Kaki saja!


Panas matahari yang terik, dan jalanan yang sedikit berdebu tidak menyurutkan semangat kami untuk berjalan kaki ke Taman Pintar. Hingga akhirnya kami tiba di Taman Pintar, disambut oleh gerbang pancuran air di Taman Pintar yang menyegarkan.


Jalan-jalan di Taman Pintar

Rasa letih karena kepanasan dan berjalan kaki dari keraton saat siang hari yang terik bikin kami kelelahan. Seolah tidak mau ketinggalan dengan rasa letih, rasa lapar pun ikut-ikutan datang (halagh).

Di Taman Pintar tersedia food court yang cukup luas dan ber AC, sehingga kami pun semua sepakat untuk beristirahat di sana.

Ketika perut dan tenaga sudah terisi penuh, kami pun bertekad untuk melanjutkan jalan-jalan mengunjungi Taman Pintar. Tarifnya pun sangat murah, dengan wahana yang lumayan banyak. Kami pun asik  menikmati wahana yang ada. Berbagai jenis wahana tersedia di sana, mulai dari era Dinosaurus hingga tentang berbagai eksperimen sains. Cukup bermanfaat dan mengasikan bagi anak-anak.
Salah satu wahana di Taman Pintar, mengubah energi kinetik menjadi Listrik

Semula kami akan melanjutkan ke Candi Prambanan, tetapi mengingat hari sudah sore akhirnya kami mengurungkan niat dan langsung kembali menuju hotel. Dan sore itu pun, bus kami menjadi salah satu dari ratusan kendaraan yang terlibat dalam kemacetan di Jalan Jogja.

Setibanya di Hotel, anak-anak yang sepertinya tidak punya urat lelah, langsung berhamburan untuk berenang di kolam renang hotel. Emang enak sih, setelah seharian berkeringat dan kecapean, berendam di air kolam renang jadi penutup hari yang menyenangkan.


Hari terakhir: Candi Borobudur


Di hari ke-3, pagi-pagi kami sudah siap-siap untuk check out kamar dan segera menuju destinasi terakhir yaitu ke Candi Borobudur.

Bagi yang sering ke Jogja, itinerary kami memang terlalu mainstream, yaitu:

- Hari pertama : Perjalanan Bandung Jogja, Check In Hotel, Jalan-jalan malam di Maliboro
- Hari Kedua : Gudeg Mbak Jum, Beli oleh-oleh Bakpia dll, Keraton Jogja, Taman Pintar, Malioboro
- Hari Ketiga : Check Out, Candi Borobudur, Pulang ke Bandung

Tidak ada yang baru, atau pengalaman inspiratif bagi yang baca. Tapi bagi kami yang jarang-jarang bisa ngumpul sekeluarga besar, pengalaman sewa bus pariwisata untuk dipakai hanya untuk kami sekeluarga. Sudah menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Ini beberapa tips bagi yang ingin melakukan perjalanan wisata menggunakan bus Pariwisata:

  1. Cek kondisi Bus yang akan dipakai, harus disurvey dan pilih busnya sendiri, supaya tidak menyesal. Jangan terlalu percaya dengan nama perusahaan bus nya, karena belum tentu semua bus nya dalam kondisi baru.
  2. Jika perjalanan jauh, pastikan fasilitas yang senyaman mungkin. Fasilitas yang bisa tersedia di bus pariwisata diantaranya: AC, jok reklining, Karaoke/Entertainment Syst, Toilet, Wifi. Tidak perlu semuanya harus ada, sesuaikan dengan kebutuhan, ingat perjalanan yang lama lho.
  3. Siapkan fasilitas pendukung sendiri, misalnya bantal leher (ada juga bis yang menyediakan bantal leher), makanan ringan, minuman (biar ga keselek abis makan makanan ringan), powerbank (biar ga mati gaya gara-gara gadget habis daya), film atau cd musik kesukaan untuk diputar di Bus.

Silahkan simak video perjalanan kami trip ke Jogjakarta.

1 komentar:

  1. Transparency Market Research delivers key insights on the global steel and ceramic injection molding market. Molds, crucial issue assume about|to contemplate} Women’s Waterproof Shower Caps is the consistency of wall thickness because of|as a end result of} uneven wall thickness will end in molding injection failure after a certain period. FOW Mould’s tooling machines are of high precision which ensures the accuracy of the molds, thus lengthen the mildew life.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.